Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2009

QURBAN: TERNYATA MURAH

Jamaah calon haji sudah mulai berangkat ke tanah suci sepekan ini. Pertanda sebantar lagi memasuki bulan Dzuhijjah. Di bulan ini ada sebuah hari raya bagi umat Islam. Satu daru dua hari raya umat Islam. Itulah Idul Adha.

Pada bulan ini, ada sebuah hari nahr. Yaitu hari penyembelihan hewan qurban. Sebagai sunnah Nabi Ibrahim a.s. Jumhur ulama menetapkan bahwa menyembelih hewan qurban adalah sunnah muakkad bagi muslim yang mampu. Yaitu yang mampu membeli seekor hewan qurban seperti kambing, sapi, dan onta.

Alhamdulillah setiap tahun semakin banyak saja orang Islam yang tergerak memotong hewan qurban. Saya jadi teringat masa sewaktu kecil dulu. Di kampungku, orang yang memotong hewan qurban di hari nahr pasti orang yang kaya raya.

Yang biasa-biasa saja, gak usahlah berqurban. Kan ini tidak wajib.

Yang miskin, cukup menerima pemberian beberapa ons daging qurban dari balik pagar besi yang tinggi.

Kini, saya tinggal di sebuah perumahan di Cikarang.

Hewan qurban yang disembelih oleh panitia dua tahun ini sekitar 7 ekor sapi plus 40-an ekor kambing. Kalau satu sapi mewakili 7 orang, berarti total ada 90-an orang pequrban. Kalau satu orang mewakili 1 KK, berarti ada 90 KK yang berqurban. Ini berarti sekitar 20% dari total 450 KK di perumahan ini.

(Surprise! Jumlahnya hampir sama dengan jumlah jamaah shalat isya yang dulu pernah saya tulis).

Apakah angka ini sudah cukup bagus?

Tergantung dari pembandingnya.

Dua tahun lalu saya bersama teman-teman pernah melaksanakan penyembilahn qurban di sebuah di desa di sebuah kabupaten di Bandung. Ada 3 ekor yang kami beli dan sembelih di kampong ini. Masyarakat desa begitu antusias bergotong royong menyambut penyembelihan 3 ekor kambing ini. Kabarnya di sini jarang sekali ada orang yang memotong hewan qurban. Kalau ada paling cuma memotong 1 ekor saja. Apakah ini karena penduduknya miskin? Bisa jadi itu salah satu sebabnya. Yang memotong qurban Cuma orang yang kaya raya. Yang biasa-biasa saja tidak, karena ini bukan wajib.

Kalau qurban di perumahan saya dibandngkan qurban di desa di atas, pasti orang sudah berdecak kagum…. Padahal seharusnya hewan yang disembelih bisa lebih banyak lagi.

Baik di perumahan saya maupun di desa di kabupaten Bandung itu. Karena berqurban pada zaman sekarang, tentu tak ada seujung kuku beratnya daripada yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim a.s. sama sekali tak menyangka bahwa yang beliau sembelih adalah seekor gibas. Dia dengan rasa patuh kepada Allah, sedang melaksanakan perintahnya menyembelih anak kandungnya sendiri. Ismail a.s. Anak yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu.

Sedangkan kita?

Sudah pasti yang kita sembelih adalah kambing, sapi, atau onta. Sudah jelas makhluknya. Sudah jelas dimana belinya. Sudah jelas harganya. Sudah jelas kapan waktunya. Maka zaman sekarang berqurban itu bisa direncanakan dengan baik. Asal kita punya kemauan.

Jadi masalah uang untuk berqurban bukanlah masalah besar. Tidak harus kaya raya dulu untuk berqurban. Yang harus ada adalah kemauan untuk melaksanakan sunnah Nabi Ibrahim a.s. Lalu lakukan perencanaannya.

Mari kita bayangkan. Boleh juga sambil berhitung pake kalkulator. Dengan harga seekor kambing Rp. 1.000.000,- maka seharusnya jumlah orang yang berqurban bisa 2-3 kali lipat daripada sekarang. Jika angka ini dibagi dengan 350 hari saja (karena 1 tahun kalender hijriyah lebih pendek daripada kalender masehi), maka hanya dengan menabung Rp 3.000,- saja per hari, kita bakalan dapat menyembelih qurban pada hari H.

Bayangkan lagi…. Kalau seorang perokok setiap hari menghabiskan 1 pak rokok seharga Rp. 10.000,- berarti setahun dia telah membelanjakan 3.5 juta rupiah untuk rokok. Ini sama dengan 3-4 ekor kambing.

Jadi ternyata berqurban seekor kambing bukanlah sesuatu yang mahal dari segi biaya. Tidak memberatkan jika direncanakan. Tapi memang pengurbanan untuk taat kepada Allah itulah yang berat.

Sayangnya sebagian kita bahkan lebih memilih mengorbankan diri sendiri. Merusak diri baik fisik maupun mental demi kesenangan duniawi.

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Sabtu, 27 Desember 2008

Haji, Kamu Mampu!

Oleh Choirul Asyhar

Teman-teman yang sebulan lalu berangkat haji kini sudah bersiap siap pulang. Wow, pasti mereka senang sekali sebentar lagi bertemu keluarga dan kerabat di tanah air. Selain melepas rindu, mereka juga senang karena telah selesai melaksanakn rukun Islam ke lima ini. Wow, senang sekali menjadi orang yang berkemampuan menunaikan ibadah haji ini.

Ya, rukun Islam yang kelima adalah melaksanakan ibadah haji jika mampu.

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)

Membaca hadist di atas ada dua cara orang membacanya:
Pertama, karena saya belum mampu maka saya tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Nanti kalau saya mampu maka saya dikenai kewajiban haji itu. Sekarang belum. Ada ‘rukhsyah’ untuk tidak melaksanakannya karena saya masih belum berkemampuan.
Jika membacanya demikian, maka akan muncul permakluman-permakluman diri yang lain. Seperti:
“Saya kan cuma buruh pabrik, mana mungkin bisa melaksanakan haji. Setiap bulan gaji pas-pasan untuk hidup, sekolah anak-anak dan lain-lain kebutuhan rumah tangga.”

Atau “Saya masih banyak hutang. Setiap bulan harus bayar angsuran rumah, motor, hape, panci, karpet, dan lain-lain.”

Atau pula “Kayaknya harus dapat rejeki nomplok nih, baru saya bisa naik haji.”
Atau “Pokoknya kalau dapat undian berhadiah mobil saya akan jual untuk ongkos naik haji.”

Ada juga, “wah, mana mungkin? Saya tidak punya sawah untuk dijual bakal ONH.”

Kalau terus didengarkan makin banyak lagi alasan-alasan yang justru melemahkan diri untuk justru menjadikannya orang yang tidak mampu berhaji. Padahal kalau ditanya mau nggak sih dia haji, pasti jawabannya “Mau dong, siapa yang nggak pengen?”

Pengen adalah cita-cita. Cita-cita adalah dream. Anak kecil jika ingin mainan bisa termimpi-mimpi untuk mendapatkannya. Sampai tidurnya mengigau menyebut-nyebut nama mainan itu. Ketika bangun tidur, merengek lagi kepada ayah ibunya agar dibelikan mainan itu.

Kalau kita pengen haji, mestinya juga demikian. Termimpi-mimpi saat tidur, lalu bekerja keras saat terbangun. Demi tercapainya cita-cita itu. Bukan sebaliknya melemahkan diri kedalam ketidakmampuan itu. Jika demikian, maka benarlah bahwa keinginannya untuk berhaji tak bakal terwujud karena dia selalu menenggelamkan dirinya dalam kelompok orang yang tak mampu. Sehingga tidak perlu pergi haji.

Itu adalah cara pertama. Bagaimana dengan cara kedua membaca hadis itu?
“Ini adalah rukun Islam, saya harus jadi orang mampu. Agar saya bisa berhaji!”
“Rukhsah bagi yang tak mampu itu, biar untuk orang lain saja. Saya harus mampu!”

Lalu targetkan kapan bisa naik haji. Kalau untuk rumah seharga 50 juta berani mencicil 10-15 tahun, kenapa tidak mencoba mencicil ONH? Ayo, ambil kalkulator. Masukkan angka 70 juta untuk ongkos haji suami-istri 10 tahun yang akan dating. Bagi dengan 10, maka itu berarti kita harus menabung 7 juta per tahun. Bagi lagi dengan 12. Itu berarti kita harus menyisihkan Rp. 584 ribu per bulan. Jika gaji kita 3 juta per bulan berarti dengan menyisihkan 20% setiap bulan, kita akan berkemampuan berhaji tahun 2018 nanti. Sambil berdoa semoga nilai rupiah tidak terus terdepresiasi terhadap dollar.

Kalau nilai ini dianggap terlalu besar, mari kita bikin urutan prioritas pengeluaran bulanan. Coret yang tidak perlu. Coret yang tidak akan membuat kita mati tanpanya. Coret yang justru membuat kita sakit jasmani dan rohani. Apa yang masuk criteria itu?
Banyak. Misalnya rokok yang merusak jasmani kita. Bioskop yang merusak kantong dan rohani kita. Jalan-jalan ke mall yang menyuburkan sifat konsumerisme dan hedonisme. Kurangi jajan, karena istri telah memasak di rumah. Kurangi jajan hanya karena hobbi. Misalnya makan bakso atau duren. Jadikan makan karena butuh, bukan karena nafsu. Kurangi memanjakan anak dengan jajanan tak bergizi dan menyuburkan penyakit. Yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak dan tak dikover asuransi.

Kalau istiqomah dan terus berdoa kepada Allah niscaya Allah akan menguatkan niat kita menuju berkemampuan itu.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbbaik
Innal hamda wanni’mata
Laka walmulk
Laa syariikalak.

Cikarang Baru, 28 Dhulhijjah 2008/26 Desember 2008