Kamis, 12 Juni 2008

Menghargai Kehidupan

Berita pembunuhan di televisi benar-benar membuat kita geleng-geleng kepala. Betapa tidak, sebab yang sepele bisa mendorong seseorang membunuh. Bahkan ada seorang ibu yang membunuh anak-anaknya tanpa sebab yang jelas. Sampai ketika ditangkappun, jawabannya juga tidak jelas. Gara-gara uang beberapa ribu rupiah, dua sahabat bisa saling bunuh. Apakah benar ini karena uang beberapa rupiah itu, atau ada sebab lain. Tak jelas.

Berbagai permasalahan hidup banyak mendedah kita. Juga godaan materialisme, membuat kehidupan ini semakin sulit dijalani. Keinginan seakan menjadi kebutuhan. Kebutuhan tersier berubah menjadi kebutuhan primer. Seorang anak SMP tidak mau sekolah gara-gara dikatain HP-nya kuno. Sementara teman-temannya menggenggam HP keluaran terbaru. Orang tua siswa menjemput anaknya dengan mobil mewah, padahal SPP-nya sudah enam bulan nunggak.

Penempatan skala prioritas yang jungkir balik, membuat seseorang tidak bisa menikmati hidup. Merasa serba kekuarangan, sementara nikmat hidup yang di tangan tak pernah disyukuri. Melihat rumput rumah tetangga lebih hijau dan indah daripada rumah sendiri. Istri teman tampak lebih cantik daripada istri di rumah yang belasan tahun setia menunggu dan mengasuh anak-anaknya penuh kasih sayang.

Merasa teman sendiri lebih beruntung daripada diri sendiri, sehinggi iri dan dengki sesak memenuhi dadanya. Kebahagiaan tetangga seakan sengaja dipertontonkan untuk memanas-manasi hatinya. Sehingga seperti kata Imam Ghazali, ”sedih melihat orang senang, dan senang melihat orang sedih.”

Ketika sekelompok orang kafir melecehkan Nabi Muhammad SAW, sekelompok orang Islam tenang-tenang saja. Dengan dalih kemuliaan Islam tak bakalan runtuh oleh olok-olok orang kafir. Jadi Islam tidak perlu dibela. Tapi ketika sekelompok orang Islam berdakwah dan menyinggung perilaku seorang Kyai yang dinilai buruk, maka pengikut Kyai itu marah membalas dendam berlebihan. Seakan saudara sesama muslim itu telah berubah menjadi musuh bebuyutan.

Salah melihat mana musuh mana teman, membuat hati keras seperti batu. Semangat menghabisi musuh –yang sebenarnya adalah saudara seiman- melebihi semangat jihad membela kemuliaan Islam.

Jika terjadi konflik horizontal sesama muslim apakah malaikat bingung mana yang mati syahid mana yang sangit. Mana yang pantas beroleh surga yang dijanjikan, mana yang tidak?

Tidak! Tidak serumit itu, karena Rasulullah pernah bersabda bahwa sesama muslim yang saling bunuh, maka yang membunuh maupun yang terbunuh sama-sama masuk neraka.

Sementara hukumnya sudah ditegaskan oleh Rasulullah, si pembunuh biasanya masih bingung kenapa ia akhirnya jadi pembunuh. Ketika di dalam penjara, sering penyesalanpun timbul. Pengakuan bahwa ia diperkuda hawa nafsupun terungkap. Gelap mata dan kesadaran hilang sering menjadi kambing congek hitam.

Sementara si terbunuh kalau bisa ditanya kemungkinan besar dia mengatakan entahlah kenapa dia bisa sekalap itu. Apa salah saya?

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah R.A, dikatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: ”Demi Allah yang nyawaku dalam kuasa-Nya, kelak akan datang suatu masa dimana seorang pembunuh tidak tahu untuk apa ia membunuh, sedang korban yang tewas tidak tahu pula karena apa ia dibunuh.” (HR Muslim)

Maka tidak ada jalan lain. Mari kita kembali ke jalan Allah, kita jauhkan sifat kecintaan kepada dunia berlebihan yang menjadi akar segala masalah. Cinta dunia membuat kita takut mengahadapi kematian. Cinta dunia mendorong kita melakukan apapun saja demi kenikmatan dunia yang banyak dijajakan di berbagai media. Kecintaan dunia mendoktrin kita, bahwa tanpa menggenggam semua kenikmatan dunia kita berada di jurang kegagalan yang hina dina.

Cinta dunia membuat kita terombang ambing tak menentu. Arah tujuan hidup yang jelas mengharap keridhaan Allah menjadi kabur. Harga kehidupan menjadi murah. Dengan menjual prinsip-prinsip kehidupan, kemewahanpun berpindah tangan.

Keteladanan memegang prinsip kehidupan telah dicontohkan oleh Sayyid Qutb rahimahullah. Ketika tegar berdiri ditiang gantungan, beliau berpesan kepada calon penjagalnya, bahwa demi kalimat laa ilaaha illallah beliau rela mati, sementara sang algojo meremehkan kalimat laa ilaaha illallah demi mendapatkan kehidupannya.

Senada dengan hal di atas seorang ulama Indonesia, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah juga pernah berpesan ”Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

.......... Subhanallah, dimanapun kita berada.... Oh, mata kita sering menderita myopi –rabun jauh- ketika harus memandang jauh ke akhirat.

Wallahu’alam bisshawab

Choirul Asyhar

Cikarang Baru, 7 Mei 2008

Selasa, 27 Mei 2008

Kebaikan Dunia Akhirat

(Satu dari 2 tulisan)

Setiap hari pasti kita tak pernah lupa berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Doanya: ”Rabbanaa atinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, waqina ’adzaabannaar”. Insya Allah semua orang Islam hafal do’a ini. Bahkan anak TPA usia pra TK pun.

Kalau ditanya bagaimana wujud kebaikan di dunia dan akhirat itu, pasti setiap orang memiliki jawaban yang bermacam-macam. Biasanya tergantung situasi dan kondisi yang sedang dialaminya saat ini.

Kalau didata jawaban-jawaban itu, maka akan kita dapatkan resumenya sebagai berikut:

Bahagia di dunia

1. Mahabbatullah (Dicintai Allah)

Bentuk kebahagiaan di dunia yang pertama adalah mahabbatullah (dicintai Allah). Bayangkan dicintai keluarga saja kita senangnya bukan main. Memiliki keluarga yang saling mencintai serasa kebahagiaan ada di tangan. Apalagi dicintai tetangga kanan kiri. Ketika kita absen dari sholat berjamaah, ada yang menanyakan keberadaan kita. Ketika kita keluar kota, ada saja tetangga yang kangen. Wah, bahagia rasanya.

Lalu bagaimana jika kita dicintai oleh masyarakat se RT, se RW, sekampung, sedesa, sekecamatan, sekabupaten, sepropinsi, senegara? Ini sangat didambakan para caleg dan cabup, cagub apalagi capres. Karena kecintaan rakyat adalah dukungan pada bilik suara nanti.

Lalu apapula yang terjadi jika kecintaan itu datangnya dari Allah Rab semesta alam? Adakah kita pernah mendambakannya sebagaimana kita mendambakan cinta rakyat bagi calon pimpinannya? Padahal cinta Allah adalah kebahagiaan di dunia yang tak ada tandingannya. Kalau cinta rakyat adalah dukungan bagi pemimpin, maka cinta Allah adalah dukungan yang tak tergoyahkan.

Dengan cinta Allah kepada kita akan menjadi semangat tersendiri untuk kita menempuh segala jalan kebaikan. Atas ruh cinta Allah kita akan menjadi santun kepada sesama mukmin, dan tegas terhadap setiap pengingkaran dan penyimpangan. Tak ada rasa takut berjuang membela kebenaran hakiki. Tak gentar oleh celaan orang-orang yang bisanya cuma mengritik dan mencela.[1]

2. Rahmatullah (Dirahmati Allah)

Harta banyak, jabatan tinggi, dihormati masyarakat, istri cantik, anak-anak yang sehat, ganteng dan cantik, tak terasana nikmatnya jika kehidupan kita tak dilingkupi rahmat Allah. Mendapatkan rahmat Allah adalah dambaan setiap muslim.

Rahmat Allah adalah kasih sayangnya dengan bentuknya yang beraneka ragam. Misalnya kita mendapatkan pertolongan Allah di dunia ini dikarenakan kita sering menolong sesama dari kesulitannya. Allah menutup aib-aib kita karena kita enggan mengumbar aib sesama mukmin.[2]

Sering kita mendapatkan rizki yang tak terduga-duga datangnya ketika dalam kondisi sangat membutuhkannya, sementara kita tak tahu lagi harus berbuat apa. Allah tiba-tiba menurunkan bantuannya, karena kita pernah melakukan pertolongan kepada manusia beberapa waktu yang lalu. Ini adalah rahmat Allah.

Rahmat itu juga turun dalam bentuk ketentraman hati dan doa para malaikat ketika kita duduk dalam majlis ilmu yang dibacakan Al Quran di dalamnya. Oh, siapa yang tidak bahagia menerima rahmat Allah ini. Oh siapa yang tak sudi mengejar-ngejar rahmat Allah ini, sementara setiap saat dia berdoa untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat?

3. Hidayatullah (Hidayah Allah)

Ketika aliran listrik tiba-tiba mati di rumah kita, pasti kita kelabakan mencari sumber cahaya. Sumber cahaya apa saja yang bisa menjadi petunjuk jalan menuju lemari tempat kita menyimpan lilin. Ada yang menyalakan korek api yang tersimpan di saku celana. Ada yang menyalakan senter di handphone. Ada yang berjalan sambil meraba-raba jalan ke arah dapur, menjadikan kulit tangannya yang penuh dengan syaraf perabanya sebagai petunjuk.

Ketika lilin itu berhasil dinyalakan, kebahagiann itu muncul. Cahaya lilin yang kecil menerangi kegelapan yang membutakan. Maka pasti tidak ada seorangpun dimuka bumi ini yang menolak hidayah Allah jika dia mengetahui fungsinya. Hidayah Allah sangat dibutuhkan untuk memahami makna kehidupannya di dunia ini. Tanpa hidayah Allah, kita tak tahu arah. Berjalan melaju kencang dan jauh, tapi ternyata justru lari dari tujuan yang benar. Dengan hidayah Allah kita bisa memanfaatkan usia kita lebih efisien dan efektif menuju kehidupan yang baik dan diridhoi-Nya. Sebagai bekal bagi kehidupan selanjutnya di Akhirat.

Diutusnya Rasulullah SAW adalah dalam rangka menunjukkan jalan-Nya yang lurus dan benar. Jalan menuju kembali kepada-Nya di rumah kehidupan yang lebih baik dan kekal.[3]

4. Al Izzah (Kemuliaan)

Kebahagiaan di dunia juga diwujudkan dalam bentuk kemuliaan di mata manusia dalam koridor keridhaan Allah. Banyak kasus seseorang dipandang mulia ketika berkedudukan tinggi dan menguasai kekayaan materi yang sangat banyak. Masyarakat menilainya sebagai orang yang berhasil. Tetapi ketika terkuak aibnya berupa skandal seks, kehinaannya meminta-minta komisi dan pemalakan liar terhadap bisnis orang lain, kemuliaan itu seketika runtuh dari sekujur tubuhnya. Apalagi ketika KPK menyeretnya dalam sidang-sidang Tipikor.

Jika demikian, maka pasti kebahagiaan di dunia yang kita dambakan adalah kemuliaan yang kekal di dunia ini yang tentu akan berlanjut di akhirat nanti. Tak apalah hidup bersahaja asal terus diliputi rizki yang halal dan berkah dan dijauhkan dari rizki yang haram baik zat dan cara memperolehnya. Kalau toh kekayaan terkumpul, kebersahajaan akan mengantarkan langkah kakinya menuju kantong-kantong komunitas yang membutuhkannya. Kebersahajaannya akan menuntun tangannya untuk berbagi lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Kesadaran demikian akan dan hanya akan muncul ketika ada ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya dan loyalitas kepada orang-orang yang beriman. Maka pada gilirannya izzah kemuliaan diri akan melekat pada dirinya. Tak ada rasa gentar menghadapi kekuatan fisik orang lain dan kekayaan materi orang lain. Karena dia yakin kemuliaan buka terletak pada kekuatan fisik dan materi itu, tapi pada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.[4]

5. Al Ghalabah (Kemenangan)

Bentuk kebahagiann yang lain adalah kemenangan. Kemenangan tentu didambakan setiap orang. Ketika mengikuti lomba mewarnai seorang anak –atau orang tuanya- pasti ingin memenangkan lomba itu, apapun hadiahnya. Ketika bersekolah, menjadi siswa sepuluh besar menjadi kebahagiaan tersendiri. Olympiade Matematika, Fisika dan Biologi yang dimenangkan putra-putri bangsa, sangat membangkan pemerintah dan bangsa Indonesia. Kemenangan tim olah raga juga dielu-elukan para penggemarnya. Kemenangan dalam Pilkada juga membawa kebahagiaan partai dan pendukungnya.

Hanya saja sikap menerima kemenangan berbeda-beda. Sesuai dengan motivasi dan cara memperoleh kemenangan itu sendiri. Tak jarang pesta pora dirayakan. Sehingga melupakan hakekat siapa yang memberi kemenangan itu. Bahkan perayaan yang berlebihan justru mengangkatnya dalam singgasana kepercayaan diri yang berlebihan bahkan kesombongan. Tak sedikit yang justru terjerumus dalam kemaksiatan yang sangat disenangi syaitan. Jika ini yang terjadi, maka hakikatnya kita bukan memperoleh kemenangan itu, karena kita justru dikalahkan oleh nafsu syaitan itu. Maka kebahagiaan dalam euforia kemenangan itu hanya sesaat, setelah itu si pemenang akan terpuruk dalam lembah kehinaan.

Jika kita berkenan dengan kemenangan yang sebenarnya maka berarti kita mendapatkan kebahagiaan itu. Dan selayaknya kita tahu cara memperoleh kemenangan itu. Mari kita buka sejenak Al Quran kita. Bukalah surat Al Maidah: 56, maka kita akan memahami bagaimana Allah memberikan kemenangan yang sesungguhnya kepada kita.

Itulah resume kebahagiaan di dunia yang pasti kita dambakan.

(Bersambung)
Choirul Asyhar
http://islamunaa.blogspot.com
http://lintasankatahati.blogspot.com

[1] QS. Al Maidah : 54

[2] HR. Muslim dari Abu Hurairah

[3] QS. Asy-Syuraa : 52-53

[4] QS. Al Munaafiqun : 8

Kamis, 13 Maret 2008

Maulid Nabi di Kampungku (Dulu)

Setiap tahun sebagian umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hari kelahiran Nabi Muhammad. Yaitu setiap tanggal 12 Rabiul Awal menurut penanggalan hijriyah. Tahun ini Maulid Nabi jatuh pada tanggal 20 Maret 2008.

Peringatan Maulid Nabi awalnya diadakan pada zaman dinasti Fatimiah tahun 300-an Hijriyah. Lalu pernah digunakan untuk memompa semangat tentara Islam pada zaman perang salib. Momen ini digunakan oleh Salahuddin Al Ayyubi untuk memutar kembali perjuangan Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya di segala bidang demi tegakkanya Islam di muka bumi. Benar saja ternyata mengenang perjuangan beliau dan para sahabatnya membangkitkan kembali semangat tentara Islam dalam perang salib yang melelahkan itu.

Kini peringatan Maulid Nabi terus dilaksanakan oleh sebagian besar kaum muslimin. Ada berbagai cara untuk mengisi Maulid Nabi. Di kampung-kampung tradisional banyak dilakukan dengan tukar-menukar makanan dengan tetangga. Menurut KH. Hasyim Muzadi dalam tulisannya di Republika, ini adalah wujud kecintaan sesama sebagai bukti kecintaan kepada Baginda Nabi.

Dulu, pada masa kecil saya, memasuki bulan Mulud (Bulan Jawa yang bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal) pasar menjadi sangat ramai. Nenek dan Kakek saya memiliki sebuah toko di area pasar itu. Karena itu saya yang tinggal di sana bisa merasakan betul geliat warga desa memasuki bulan ini. Di pasar, jalanan di tutup untuk kendaraan bermotor. Karena dijadikan arena pasar kaget. Jualannya macam-macam. Mulai makanan, mainan anak-anak yang terbuat dari tanah liat yang berbentuk miniatur alat-alat dapur, sampai topeng macan, monyet dan hewan lainnya yang terbuat dari adonan kardus yang dicetak lalu dilukis menyerupai wajah berbagai hewan. Saat itu belum ada tokoh-tokoh kartun Jepang, sehingga tidak dijual topeng power ranger, ultraman, spiderman, batman dan sebagainya. Keramaian pasar ini hampir sama dengan keramaian menjelang lebaran. Saya senang saja, karena ini berarti pengunjung toko Nenek saya jadi melimpah juga. Apalagi nenek saya memang berjualan alat-alat dapur yang terkena imbasnya keramaian grebeg maulid ini.

Kini keramaian itu tak ada lagi. Pemahaman momen maulid untuk meningkatkan kualitas ruhiyah berbekal kecintaan kepada Rasulullah, mengurangi keramaian pasar. Yang beralih pada perenungan dan kajian di masjid-masjid. Pembedahan siroh Nabi, membuka wawasan umat Islam bahwa untuk mencintai Rasulullah diperlukan langkah nyata meneruskan dakwah Islam. Memoles dan memperbaiki kepribadian muslim sedekat mungkin dengan kepribadian Nabi, karena beliau adalah uswah hasanah. Teladan yang baik. Apalagi tantangan semakin besar. Dakwah Islam tidak semudah dulu. Banyak angin kencang dari kanan dan kiri yang kalau tidak kita antisipasi bisa menjatuhkan bangunan Islam yang dibangun oleh pendahulu kita dengan susah payah.

Peringatan Maulid Nabi tidak hanya dengan saling tukar makanan, belanja mainan untuk anak-anak kita, sholawatan di surau-surau. Tapi bisa lebih dari itu. Atau bisa pula yang tidak ada relevansinya dikoreksi.

Tukar menukar makanan, misalnya. Ini adalah budaya baik untuk diteruskan. Karena Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik dengan tetangga. Kalau tidak baik pada tetangga, Rasulullah mengatakan bahwa mereka dianggap tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Tetapi budaya ini perlu diperbaiki, bahwa memberikan makanan kepada tetangga bisa dilakukan kapan saja. Bahkan sangat baik jika dilakukan tidak hanya setahun sekali, tapi lebih sering demi menjalin silatrahim. ”Meskipun hanya sebutir kurma.” kata Rasul. Apalagi diberikan pada saat tetangga sekitar kita benar-benar membutuhkannya. Tidak ada kelaparan di sekitar kita. Karena kata Rasulullah, tidaklah beriman kita jika kita tidur nyenyak sementara ada tetangga yang kelaparan. Apalagi kalau sampai mati kelaparan.

Membelikan mainan untuk anak-anak. Siapa bilang ini bukan kebaikan? Menyayangi anak. Hanya saja, sama dengan memberikan makanan, membelikan mainan tidak harus dilakukan pada saat hari kelahiran Nabi. Membelikan mainan bisa kapan saja saat diperlukan. Belum lagi dengan jenis mainannya. Mainan edukatif sudah banyak dijual, yang bisa merangsang kecerdasan emosional, merangsang keseimbangan otak kanan kiri.

Sholawat? Apalagi ini. Ini adalah perintah Allah. Bahkan tidak hanya bagi kita. Allah dan para malaikatpun mengucapkan shalawat kepada Nabi. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kepadanya dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab : 56)

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Maka bersholawat kepada Nabi memang diperintah oleh Allah. Tidak hanya pada peringatan maulid Nabi, tapi juga di kesempatan-kesempatan lainnya. Bahkan setiap hari, paling tidak kita mengucapkan shalawat 10 kali dalam tasyahud pada saat sholat 5 waktu. Ditambah sholat-sholat sunnah, pasti lebih banyak lagi. Juga dalam dzikir pagi dan petang. Juga dalam pembuka setiap doa, kita selalu membaca pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi. Plus pada setiap nama Muhammad disebut, kita disunnahkan menjawabnya dengan shalallahu ’alaihi wasallam.

Rasulullah, mengatakan setiap ada umatnya yang bersalam dan shalawat, maka dia bermohon kepada Allah agar ruhnya dikembalikan dan beliau menjawab salam itu.

Maka shalawat dalam momen peringatan maulid Nabi hendaknya ditingkatkan tidak hanya mengharapkan pahala dan syafaat atas ucapan itu, tapi sebagai bentuk cinta kita kepada Rasulullah SAW. Dan cinta kepada Rasulullah tidak hanya di hati dan di mulut tapi juga dalam tindakan kita. Dalam bentuk mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan ternyata mengikuti sunnah-sunnah Muhammad juga sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah :

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31).

Maka momen peringatan Maulid Nabi bisa dijadikan pengingat sebarapa tinggi cinta kita kepada Allah dan Rasulnya, di mana itu diwujudkan tidak hanya dalam bentuk shalawatan tapi bagaimana kita melaksanakan sunnah-sunnahnya, sehingga Islam ada tidak hanya sekedar nama.

Cikarang Baru, 5 Rabi’ul Awal 1429H/13 Maret 2008

Minggu, 10 Februari 2008

The Power of Praying

Sebelum Sir Isaac Newton menemukan hokum grafitasi, setiap benda sudah jatuh ke tanah jika dilemparkan. Daun gugur dari pohon juga sudah jatuh ke tanah. Tidak terbang ke udara. Buah jatuh dari pohon bukan melayang. Jadi ditemukan hukum gravitasi atau tidak, hukum benda jatuh ke tanah sudah ada sejak bumi ini diciptakan oleh Allah.

Api juga sudah panas sebelum ilmuwan menemukan teori kalor, kekekalan energi dan sejenisnya. Bahkan tanpa teori-teori itu ilmu yang paling dahsyat mengajari balita kita tentang panasnya api adalah ketika mereka usil menyentuhkan tangannya ke nyala lilin.

Newton menemukan hukum kelembaman, di mana setiap benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak dengan kecepatan tetap dan setiap benda yang diam akan terus cenderung diam, jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. Newton mendapatkan teori ini setelah dia melakukan berbagai penelitian kejadian-kejadian di alam semesta ini. Berbagai simulasi dilakukan untuk akhirnya menemukan hukumnya itu. Jadi Newton ’hanya’ merangkai sebuah kesimpulan dari kejadian-kejadian yang ada. Karena belum ada orang lain yang menyatakan sebelumnya, maka hukum ini disebut Hukum Newton. Semua femomena gerakan dan diamnya benda di bumi ini tunduk pada Hukum Newton ini. Tetapi itu tidak berarti tunduk pada Newton sendiri sebagai manusia. Malahan Newton sendiri juga tunduk pada teorinya itu. Kalau jatuh juga ke bawah. Kalau dia sedang diam berdiri, akan njrungup ketika tiba-tiba di dorong dari belakang dengan kekuatan cukup.

Lalu belakangan ada ilmu yang sebenarnya sudah lama didengungkan oleh para filsus kuno, tapi jadi tren baru sejak munculnya film the Secret. Yaitu the Law Of Attaction (Hukum Daya-Tarik) atau disingkat LoA, yang menyatakan bahwa manusia itu seperti magnet. Sehingga setiap detil peristiwa yang dialaminya adalah atas undangan (daya tarik) dirinya sendiri.

Sama dengan hukum-hukum sebelumnya, sebelum muncul istilah dan definisi ini, Allah juga telah menjadikan itu sebagai rangkaian ke-Mahapenciptaan-Nya. Allah menciptakan alam semesta lengkap dengan berbagai sistemnya. Sangat sempurna. Ada api panas, ada air dingin. Ada grafvitasi, ada orbit. Ada energi, ada kekekalannya. Ada gerak, ada kelembamannya. Di Indonesia dan daerah tropis lainnya ada musim hujan ada musim kemaraunya. Di kawasan utara ada 4 musim yang tidak saling berkejaran urutannya. Agar manusia dapat menghitungnya. Agar manusia dapat memanfaatkannya. Ketika musim dingin tiba, produsen mantel telah bersiap-siap dengan produknya. Tidak sampai terjadi, ketika musim hujan, pabrik payung lalai memproduksi payung karena tidak tahu kapan musim hujan datang. Siang dan malam tidak akan tertukar. Malam tidak dapat mengejar siang (QS. Yaasin : 40)

Demikian juga dengan LoA. Allah telah menyatakan dalam al Qur’an ”Ud’unii astajib lakum”. Berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan bagimu (Al Mu’min: 60). Ujibu da’wataddaa’i idza da’ani, Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku (QS. Al Baqarah: 186). Ini sudah janji Allah. Tapi Allah juga mengatakan dalam kelanjutan ayat itu, jika kita mau selamat dan selalu dalam kebenaran maka kita harus memenuhi perintah-Nya dan tetap beriman kepada-Nya. (Falyastajiibulii wal yu’minu bii. La’allahum yarsyuduun).

Maka LoA itu ada. Dia Allah sebagai Rabbul ’Alamin (Rab seluruh alam) akan mengabulkan keinginan seluruh hamba-Nya. Hanya saja, Dia mengingatkan bahwa dengan hukum LoA yang bermakna dikabulkannya do’a kita, janganlah kita berpuas diri, lengkapi dengan iman dan menjalankan perintah-Nya agar kita tidak menjadi orang yang rugi.

Alangkah indahnya jika kita sadar bahwa doa kita bisa menjadi magnet yang menarik detail peristiwa yang kita inginkan, ketika si Pemilik Peristiwa itu berkenan melepaskannya untuk kita.

Alangkah indahnya jika kita tidak terbius dengan kehebatan magnet yang kita miliki. Alangkah indahnya jika kita bisa mengendalikan diri tidak merasa hebat sendiri.
Maka dengan kesadaran yang indah ini, akan mengatarkan kita tersungkur bersujud kepada-Nya. Melaksanakan perintah-perintah-Nya, patuh kepada-Nya sehingga kita selalu dalam kebenaran.

Bagaimana jika kita tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan tidak beriman kepada-Nya? Apakah the power of feeling masih bekerja? LoA masih efektif? Insya Allah jawabnya ya. Karena memang Allah Maha Rahman kepada semua makhluknya tanpa kecuali. Bukankan Allah memberikan oksigen dan alat pernafasan lengkap kepada semua makhluknya baik mereka mengakui keberadaan-Nya maupun atheis? Bahkan bukan hanya itu. Bukankah Allah sudah berjanji:

من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. Huud : 15).

Tidak dirugikan di dunia! Tapi bagaimana dengan kehidupan akhirat jika kita ingkar kepada perintah dan larangan-Nya serta tidak mengimani-Nya?

أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Huud : 16)

Sedahsyat apapun energi vibrasi jantung kita, kedahsyatannya tetap masih di bawah the Power of God, si Pencipta, Pemilik, Pemelihara jantung itu sendiri. Sepanas apapun api yang disiapkan oleh Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim a.s, tetap menjadi dingin ketika Allah si Pemilik-Hukum-Panasnya-Api mengatakan ”Wahai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiya : 69).
........ Mari ber LoA dengan do’a-do’a kita hanya kepada Allah semata.

Jumat, 25 Januari 2008

Ittiba' dan Ikhlas

(Syarat diterimanya Ibadah)

Sering kita mendengar orang mengatakan: “Ah, yang penting ikhlas…”. Biasanya kalimat ini dilontarkan untuk menjawab komentar orang terhadap nilai infaq yang sedikit. Banyak orang karena takut disebut tidak ikhlas, maka dia bahkan membatalkan sedekahnya. Maka “biar sedikit, asal ikhlash”.

Ada juga seseorang yang melakukan sesuatu pekerjaan yang tidak wajar menurut nilai-nilai moralitas mengatakan: “Ya... saya ikhlas menerima keadaan ini. Suami tak bertanggung jawab. Saya melakukan pekerjaan hina ini demi menafkahi anak-anak saya.”

Benarkah penempatan kata ikhlash pada kedua konteks di atas?

Salah satu syarat diterimanya amal dan ibadah kita oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah keikhlasan kita. Ikhlash artinya mengharapkan ridho Allah semata. Allah ridho jika amal kita dilaksanakan semata-mata karena Allah. Bukan karena mengharapkan pujian dari manusia (riya’) ataupun sum’ah (mengagumi diri sendiri).

Infaq

Dalam contoh orang yang berinfaq, godaannya adalah riya’ dan sum’ah itu. Karena itu sering ada yang berpendapat daripada infaqnya banyak tapi tertolak lebih baik sedikit tapi ikhlas. Ada juga yang berkata bahkan daripada sedikit tapi tertolak karena riya’ dan sum’ah lebih baik uangnya untuk beli bakso aja. Alias gak usah sedekah sekalian. Kan lumayan kenyang perut.

Padahal mestinya tidak demikian dalam menyikapi potensi riya’ dan sum’ah itu. Bukan justru meninggalkan amal atau menyedikitkan amal, karena gak mau rugi. Tapi seharusnya justru melatih jiwa ikhlas itu tumbuh dalam diri kita.

Sebelum berlatih kita perlu berdoa agar diberi keikhlasan oleh Allah SWT. Allahlah yang membolak-balik hati kita. Kita terus-menerus meminta agar diberi kepandaian dalam mengelola hati kita agar dapat bersedekah banyak dan tetap ikhlas.

Selain berdoa, kita juga harus banyak belajar. Dengan terus menerus menuntut ilmu agama terutama tentang bagaimana melatih diri agar selalu ikhlash. Belajar bisa dilakukan melalui membaca buku dan menghadiri majlis-majlis taklim. Membaca riwayat hidup para salafus sholih dan orang-orang sesudah mereka dari para salihin sangat memotivasi kita untuk bisa menjadi orang yang ikhlas. Kini juga ada buku kontemporer tentang ikhlas yang disajikan dan ternyata dapat dipahami secara ilmiah. Seperti buku-buku yang berisi ilmu pemrograman panjang gelombang otak kita. Yang menyatakan bahwa keikhlasan kita dapat dilakukan dengan teknologi otak, neuro linguistic programme, quantum ikhlas dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (mujahadah) sehingga Allah akan memudahkannya sebagai ganjaran dari kesungguhan kita.

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabut: 69)

Selain itu bergabunglah dengan komunitas orang-orang yang ikhlas dalam aktivitasnya. Ini akan memudahkan kita tertular menjadi orang yang ikhlas pula. Bagaimana tidak, kita semua memiliki kecenderungan kepada kebaikan. Maka ketika melihat orang yang tentram hidupnya karena jiwa ikhlasnya, tidak mencari popularitas yang sering justru merepotkannya sendiri, maka pasti kita ingin menikmati hal yang sama.

Ketika lama bergaul dengan lingkungan orang-orang culas yang mementingkan diri sendiri, suatu saat kita akan tertular menjadi culas dan egois. Maka sebaliknya dalam lingkungan masyarakat yang baik kita juga akan terbawa menjadi orang baik.

Bekerja Menyimpang

Dalam contoh orang yang terpaksa masuk dalam dunia hitam, jelas terjadi kontradiksi. Bagaimana mungkin ikhlas dalam arti mengharapkan keridhoan Allah, sementara mereka melaksanakan pekerjaan yang justru diharamkan oleh Allah. Bagaimana mungkin Allah meridhoi hal yang demikian. Bagaimana mungkin Allah memberi pahala sedekah kepada keluarga, jika nafkahnya diperoleh melalui cara yang diharamkan oleh Allah. Bukankah disamping kita diperintahkan memberi nafkah kepada keluarga, kita juga diperintahkan untuk mencari nafkah yang halal.
Ya.... ternyata selain ikhlas juga ada syarat kedua yaitu ittiba' dimana amal dan ibadah yang kita lakukan harus sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wa salam dan para shahabatnya.
Allah mengajarkan dalam Al Quran bahwa sedekah itu boleh disampaikan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kalau sudah bisa ikhlas dengan sedekah secara terang-terangan, kerjakan! Kalau belum bisa, lakukan secara sembunyi-sembunyi. Bukan mengbatalkan sedekah. Terus lakukan sedekah dengan mengasah hati agar bisa ikhlas.

Beramallah, maka Allah, rasulnya dan orang-orang mukmin akan menilainya. Demikian firman Allah dalam Al Quran Surat At Taubah : 105.

Dalam bekerja mencari nafkah, sudah ada rambu-rambu. Mana halal mana haram. Mana pungli mana gaji. Mana hak hasil kerja mana suap. Mana laba mana riba. Demikian juga dalam ibadah ritual. Ada banyak hadis mana ibadah yang dicontohkan mana yang mengada-ada. Mana yang boleh mana yang tambahan-tambahan tak berdalil. Meskipun lafal dzikir itu termasuk kalimah tayyibah, tapi kalau harus diucapkan pada jumlah tertentu, masa tertentu, tempat tertentu yang tidak diajarkan Rasul dan dilakukan para sahabat, maka itu berarti tidak ittiba’.

Dengan mengikuti (ittiba’) sunnah Rasulullah dan para sahabat maka Agama Islam akan terjaga kemurniannya.

Bermunculannya aliran sesat adalah karena mereka tidak ittiba’. Mereka mulanya melakukan rekayasa-rekayasa cara peribadatan. Dan meninggalkan penafsiran-penafsiran al Quran dan Hadits yang telah banyak dilakukan oleh para sahabat, salafus sholeh, dan ulama-ulama yang datang kemudian yang dikenal lurus. Dengan dalih kebebasan berfikir, kebebasan berpendapat maka lama-kelamaan ternyadi penyimpangan dari rukun iman dan rukun Islam. Karena mereka cenderung mengagungkan prasangka dan akal pikirannya sendiri di atas Allah dan Rasulnya.

أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(QS. Al Furqon: 43)

Kebenaran bukan mengikuti hawa nafsu kita, tapi mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah dan juga contoh-contoh praktek yang telah dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya.

Kalau mengikuti hawa nafsu maka yang terjadi adalah kekacauan dan kehancuran:

ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل أتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون

Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. Al Mu’minum : 71)

Jadi ibadah kita harus mengikuti ajaran dari Pemilik Agama ini yaitu Allah SWT melalui contoh-contoh yang diberikan oleh para Rasul dan para sahabatnya.

إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl : 120)

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab : 21)

Untuk itu marilah kita membulatkan niat beramal dan beribadah hanya untuk mengharap wajah Allah Ta'ala saja dan mencari keridhaan Rabb Yang Maha Tinggi, dan tidak bercampur baur dengan kesyirikan.

إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق فاعبد الله مخلصا له الدين

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az Zumar : 2)

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS Al-Bayyinah: 5)

قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al-Kahfi:110)

Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wa salam telah bersabda: "Barangsiapa berbuat suatu amal supaya amalnya didengar orang lain (sum'ah, mencari popularitas), maka Alloh mempopulerkan amalnya tersebut pada makhlik-Nya, kemudia Dia menghinakannya". (HR Ahmad dan at-Thabrani)

Latihan Ikhlas

Ikhlas tidak mudah, karena itu perlu latihan. Beberapa sikap yang bisa dilatih untuk membentuk diri agar ikhlas dalam beramal dan beribadah, antara lain:

1. Takut mendapatkan popularitas
2. Introspeksi/ Muhasabah atas dengan serba kekurangan
3. Banyak berdiam, bicara seperlunya
4. Tidak mencari pujian atau gila dengan pujian
5. Tidak pelit memuji orang yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan dengan berbagai kriterianya
6. Meluruskan niat dalam beramal karena Allah ta'ala - baik sebagai pimpinan maupun sebagai yang dipimpin
7. Mengharapkan Ridho Allah bukan Ridho manusia
8. Menjadikan ridho dan kemurkaannya Allah.
9. Bersabar menapaki jalan panjang yang sangat berat ketika pertolongan-Nya belum kunjung tiba
10. Bergembira atas keberhasilan orang lain atau minimal tidak marah karena hal itu
11. Senantiasa berusaha membersihkan batinnya dari rasa 'ujub (tazkiyatun nafs)
12. Tidak menganggap suci dirinya
13. Merahasiakan ketaatannya kecuali untuk kemaslahatan yang sangat jelas

14. dan lain-lain.

Semoga nikmat hidayah dan kebersihan niat kita dalam beribadah hanya untuk Allah semata, dan kita selalu mendapat pertolongan dan bimbingan dari Allah Rabbul 'alamin.

Rujukan:
Digital Al Quran Ver 3.2
Manajemen Hati, Dr. Muhammad bin Hasan asy-Syarif, Darul Haq, 1425 H