Jumat, 25 Januari 2008

Ittiba' dan Ikhlas

(Syarat diterimanya Ibadah)

Sering kita mendengar orang mengatakan: “Ah, yang penting ikhlas…”. Biasanya kalimat ini dilontarkan untuk menjawab komentar orang terhadap nilai infaq yang sedikit. Banyak orang karena takut disebut tidak ikhlas, maka dia bahkan membatalkan sedekahnya. Maka “biar sedikit, asal ikhlash”.

Ada juga seseorang yang melakukan sesuatu pekerjaan yang tidak wajar menurut nilai-nilai moralitas mengatakan: “Ya... saya ikhlas menerima keadaan ini. Suami tak bertanggung jawab. Saya melakukan pekerjaan hina ini demi menafkahi anak-anak saya.”

Benarkah penempatan kata ikhlash pada kedua konteks di atas?

Salah satu syarat diterimanya amal dan ibadah kita oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah keikhlasan kita. Ikhlash artinya mengharapkan ridho Allah semata. Allah ridho jika amal kita dilaksanakan semata-mata karena Allah. Bukan karena mengharapkan pujian dari manusia (riya’) ataupun sum’ah (mengagumi diri sendiri).

Infaq

Dalam contoh orang yang berinfaq, godaannya adalah riya’ dan sum’ah itu. Karena itu sering ada yang berpendapat daripada infaqnya banyak tapi tertolak lebih baik sedikit tapi ikhlas. Ada juga yang berkata bahkan daripada sedikit tapi tertolak karena riya’ dan sum’ah lebih baik uangnya untuk beli bakso aja. Alias gak usah sedekah sekalian. Kan lumayan kenyang perut.

Padahal mestinya tidak demikian dalam menyikapi potensi riya’ dan sum’ah itu. Bukan justru meninggalkan amal atau menyedikitkan amal, karena gak mau rugi. Tapi seharusnya justru melatih jiwa ikhlas itu tumbuh dalam diri kita.

Sebelum berlatih kita perlu berdoa agar diberi keikhlasan oleh Allah SWT. Allahlah yang membolak-balik hati kita. Kita terus-menerus meminta agar diberi kepandaian dalam mengelola hati kita agar dapat bersedekah banyak dan tetap ikhlas.

Selain berdoa, kita juga harus banyak belajar. Dengan terus menerus menuntut ilmu agama terutama tentang bagaimana melatih diri agar selalu ikhlash. Belajar bisa dilakukan melalui membaca buku dan menghadiri majlis-majlis taklim. Membaca riwayat hidup para salafus sholih dan orang-orang sesudah mereka dari para salihin sangat memotivasi kita untuk bisa menjadi orang yang ikhlas. Kini juga ada buku kontemporer tentang ikhlas yang disajikan dan ternyata dapat dipahami secara ilmiah. Seperti buku-buku yang berisi ilmu pemrograman panjang gelombang otak kita. Yang menyatakan bahwa keikhlasan kita dapat dilakukan dengan teknologi otak, neuro linguistic programme, quantum ikhlas dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (mujahadah) sehingga Allah akan memudahkannya sebagai ganjaran dari kesungguhan kita.

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabut: 69)

Selain itu bergabunglah dengan komunitas orang-orang yang ikhlas dalam aktivitasnya. Ini akan memudahkan kita tertular menjadi orang yang ikhlas pula. Bagaimana tidak, kita semua memiliki kecenderungan kepada kebaikan. Maka ketika melihat orang yang tentram hidupnya karena jiwa ikhlasnya, tidak mencari popularitas yang sering justru merepotkannya sendiri, maka pasti kita ingin menikmati hal yang sama.

Ketika lama bergaul dengan lingkungan orang-orang culas yang mementingkan diri sendiri, suatu saat kita akan tertular menjadi culas dan egois. Maka sebaliknya dalam lingkungan masyarakat yang baik kita juga akan terbawa menjadi orang baik.

Bekerja Menyimpang

Dalam contoh orang yang terpaksa masuk dalam dunia hitam, jelas terjadi kontradiksi. Bagaimana mungkin ikhlas dalam arti mengharapkan keridhoan Allah, sementara mereka melaksanakan pekerjaan yang justru diharamkan oleh Allah. Bagaimana mungkin Allah meridhoi hal yang demikian. Bagaimana mungkin Allah memberi pahala sedekah kepada keluarga, jika nafkahnya diperoleh melalui cara yang diharamkan oleh Allah. Bukankah disamping kita diperintahkan memberi nafkah kepada keluarga, kita juga diperintahkan untuk mencari nafkah yang halal.
Ya.... ternyata selain ikhlas juga ada syarat kedua yaitu ittiba' dimana amal dan ibadah yang kita lakukan harus sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wa salam dan para shahabatnya.
Allah mengajarkan dalam Al Quran bahwa sedekah itu boleh disampaikan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kalau sudah bisa ikhlas dengan sedekah secara terang-terangan, kerjakan! Kalau belum bisa, lakukan secara sembunyi-sembunyi. Bukan mengbatalkan sedekah. Terus lakukan sedekah dengan mengasah hati agar bisa ikhlas.

Beramallah, maka Allah, rasulnya dan orang-orang mukmin akan menilainya. Demikian firman Allah dalam Al Quran Surat At Taubah : 105.

Dalam bekerja mencari nafkah, sudah ada rambu-rambu. Mana halal mana haram. Mana pungli mana gaji. Mana hak hasil kerja mana suap. Mana laba mana riba. Demikian juga dalam ibadah ritual. Ada banyak hadis mana ibadah yang dicontohkan mana yang mengada-ada. Mana yang boleh mana yang tambahan-tambahan tak berdalil. Meskipun lafal dzikir itu termasuk kalimah tayyibah, tapi kalau harus diucapkan pada jumlah tertentu, masa tertentu, tempat tertentu yang tidak diajarkan Rasul dan dilakukan para sahabat, maka itu berarti tidak ittiba’.

Dengan mengikuti (ittiba’) sunnah Rasulullah dan para sahabat maka Agama Islam akan terjaga kemurniannya.

Bermunculannya aliran sesat adalah karena mereka tidak ittiba’. Mereka mulanya melakukan rekayasa-rekayasa cara peribadatan. Dan meninggalkan penafsiran-penafsiran al Quran dan Hadits yang telah banyak dilakukan oleh para sahabat, salafus sholeh, dan ulama-ulama yang datang kemudian yang dikenal lurus. Dengan dalih kebebasan berfikir, kebebasan berpendapat maka lama-kelamaan ternyadi penyimpangan dari rukun iman dan rukun Islam. Karena mereka cenderung mengagungkan prasangka dan akal pikirannya sendiri di atas Allah dan Rasulnya.

أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(QS. Al Furqon: 43)

Kebenaran bukan mengikuti hawa nafsu kita, tapi mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah dan juga contoh-contoh praktek yang telah dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya.

Kalau mengikuti hawa nafsu maka yang terjadi adalah kekacauan dan kehancuran:

ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل أتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون

Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. Al Mu’minum : 71)

Jadi ibadah kita harus mengikuti ajaran dari Pemilik Agama ini yaitu Allah SWT melalui contoh-contoh yang diberikan oleh para Rasul dan para sahabatnya.

إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl : 120)

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab : 21)

Untuk itu marilah kita membulatkan niat beramal dan beribadah hanya untuk mengharap wajah Allah Ta'ala saja dan mencari keridhaan Rabb Yang Maha Tinggi, dan tidak bercampur baur dengan kesyirikan.

إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق فاعبد الله مخلصا له الدين

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az Zumar : 2)

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS Al-Bayyinah: 5)

قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al-Kahfi:110)

Rasulullah Shalallahhu 'alaihi wa salam telah bersabda: "Barangsiapa berbuat suatu amal supaya amalnya didengar orang lain (sum'ah, mencari popularitas), maka Alloh mempopulerkan amalnya tersebut pada makhlik-Nya, kemudia Dia menghinakannya". (HR Ahmad dan at-Thabrani)

Latihan Ikhlas

Ikhlas tidak mudah, karena itu perlu latihan. Beberapa sikap yang bisa dilatih untuk membentuk diri agar ikhlas dalam beramal dan beribadah, antara lain:

1. Takut mendapatkan popularitas
2. Introspeksi/ Muhasabah atas dengan serba kekurangan
3. Banyak berdiam, bicara seperlunya
4. Tidak mencari pujian atau gila dengan pujian
5. Tidak pelit memuji orang yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan dengan berbagai kriterianya
6. Meluruskan niat dalam beramal karena Allah ta'ala - baik sebagai pimpinan maupun sebagai yang dipimpin
7. Mengharapkan Ridho Allah bukan Ridho manusia
8. Menjadikan ridho dan kemurkaannya Allah.
9. Bersabar menapaki jalan panjang yang sangat berat ketika pertolongan-Nya belum kunjung tiba
10. Bergembira atas keberhasilan orang lain atau minimal tidak marah karena hal itu
11. Senantiasa berusaha membersihkan batinnya dari rasa 'ujub (tazkiyatun nafs)
12. Tidak menganggap suci dirinya
13. Merahasiakan ketaatannya kecuali untuk kemaslahatan yang sangat jelas

14. dan lain-lain.

Semoga nikmat hidayah dan kebersihan niat kita dalam beribadah hanya untuk Allah semata, dan kita selalu mendapat pertolongan dan bimbingan dari Allah Rabbul 'alamin.

Rujukan:
Digital Al Quran Ver 3.2
Manajemen Hati, Dr. Muhammad bin Hasan asy-Syarif, Darul Haq, 1425 H